MODIFIKASI TRANCEIVER YAESU FT 180 A

Ini adalah tulisan dari Om Andi Sutandi di : radiotengkorak.blogspot.com
Beliau mahir kotak-katik radio . tulisan ini bisa dijadikan sebagai referensi untuk modif FT-180A

 

Hallo rekan2 cber/homebrewer pengunjung setia blog RT, atas permintaan beberapa rekan maka pada kesempatan ini saya akan menulis artikel tentang modifikasi Yaesu FT180A.
Mudah2an saya bisa mengupas tuntas mengenai cara memodifikasi radio Yaesu FT180A ini ke band lain.
Langsung saja pada sasarannya sbb :
Silahkan lihat gambar dibawah berikut ini

RF Unit Yaesu FT180A, untuk operasi normal (simplex), lakukan jumper seperti pada gambar
Dari gambar diatas terlihat untuk jumper LPF adalah Ch 6 dijumper ke LPF untuk frekwensi 11.1MHz s/d 18.0MHz (tanda lingkaran warna biru), tapi transformer BPF belum dipasang di Ch 6, sedangkan pada Ch 1 sudah terpasang sepasang transformer BPF bawaan aslinya dari Yaesu FT180A bekas channel emergency. lilitannya bisa dirubah/dililit ulang untuk dipakai modif ke frekwensi lain.

Gambar diatas adalah RF Unit Yaesu FT180A yang akan anda temukan apabila kita buka cover atas radio.
Pada unit inilah sebenarnya yang paling banyak dilakukan  perubahan seperti melakukan jumper RX Band, TX Band, LPF dan kita harus membuat lilitan transformer BPF nya.
Secara default radio FT180A ini menyediakan 3 channel untuk operasi duplex jika diperlukan yaitu dengan sengaja menyediakan titik2 jumper pada TX Band di ch 1 - 3 (jumper sebelah kiri pada gambar diatas) dan pada RX band di ch 4 - 6 (jumper sebelah kanan pada gambar).
Untuk operasi normal atau frekwensi RX sama dengan frekwensi TX atau disebut juga Simplex, lakukan jumper seperti pada gambar diatas.
Lakukan penjumperan seperti diatas walaupun anda tidak menggunakan semua channel, ini hanya untuk jaga2 dikemudian hari saja siapa tahu anda akan  menggunakan ke enam channelnya.
Pada gambar diatas terlihat CH1 - A dan CH1 - B sudah terisi transformer BPF pada Channel 1. Biasanya memang kalau kita mendapatkan radio ini yang masih asli belum dimodif, minimal ada satu channel yang sudah terisi transformer BPF untuk Channel Emergency biasanya di channel 1 default dari pabriknya.
Dan jika diperlukan channel 1 ini bisa kita rubah lilitan kedua transformernya sesuai dengan frekwensi kerja yang kita perlukan.
Untuk membatasi supaya artikelnya tidak terlalu panjang, maka akan saya ambil salah satu contoh saja yaitu Modifikasi Yaesu FT180A ke 11.410MHz s/d 11.435MHz dengan Oscilator X'tal 6 Channel.
Untuk ke frekwensi lain pada dasarnya sama saja tinggal mengganti lilitan transformer BPF, merubah jumper LPF dan untuk oscilatornya bisa menggunakan VFO, VXO, PLL, FLL dll.
Pada RF Unit hanya terdapat 12 transformer BPF untuk 6 channel, yang terdiri dari 6 channel di tanda A pada gambar diatas dan 6 channel di tanda B pada gambar diatas.
Tujuan saya menandai CH1 - CH6 di A dan CH1 - CH6 di B untuk memudahkan mengindentifikasi dalam pembahasan berikutnya untuk cara membuat lilitannya BPF nya, biar nggak ketukar.
Memang saya akui agak sedikit bingung yang saya rasakan ketika pertama kali memodifikasi FT180A ini, terutama cara membuat lilitan/cara melilit kawat untuk BPF nya.
Karena kenyataannya antara skematik dan susunan kaki BPF pada pcb nya berbeda.
Nah...untuk membantu anda supaya tidak membingungkan dalam membuat transformer BPF nya, gambar berikut dibawah ini adalah cara melilit transformer BPF dan susunan kakinya yang berlaku pada pcb RF unit Yaesu FT180A.

Keterangan Lilitan BPF untuk 11.400 - 11.500MHz
Lilitan dibuat pada transformer IF 10.7MHz dengan ukuran kawat yang sama 

FREQ. RANGE

MODIFICATION

KIT NO.

FREQUENCY

RANGE

TRANSFORMER

TO 02 s/d TO 13

CAPACITOR

C21 s/d C26

C53 s/d C58

DATA TRANSFORMER

02 s/d 13

D3000116

1.5 – 2.0 MHz

L0020 973

2X

Dipped mica 50WV

180 pF 2X

Layer 1 = 3 Turn

Layer 2 = 30 Turn

Layer 3 = 25 Turn

D3000117

2.0 – 2.5 MHz

L0020 973

2X

Ceramic (NPO) 50WV

100 pF 2X

D3000118

2.5 – 3.0 MHz

L0020 973

2X

Ceramic (NPO) 50WV

68 pF 2X

D3000119

3.0 – 3.5 MHz

L0020 974

2X

Ceramic (NPO) 50WV

150 pF 2X

Layer 1 = 3 Turn

Layer 2 = 16 Turn

Layer 3 = 11 Turn

D3000120

3.5 – 4.8 MHz

L0020 974

2X

Ceramic (NPO) 50WV

82 pF 2X

D3000121

4.8 – 5.0 MHz

L0020 974

2X

Ceramic (NPO) 50WV

68 pF 2X

D3000122

5.0 – 6.0 MHz

L0020 975

2X

Cerramic (NPO) 50WV

68 pF 2X

Layer 1 = 2 Turn

Layer 2 = 13 Turn

Layer 3 = 9 Turn

D3000123

6.0 – 7.0 MHz

L0020 975

2X

Ceramic (NPO) 50WV

39 pF 2X

D3000124

7.0 – 8.0 MHz

L0020 976

2X

Ceramic (NPO) 50WV

68 pF 2X

Layer 1 = 2 Turn

Layer 2 = 10 Turn

Layer 3 = 7 Turn

D3000125

8.0 – 9.0 MHz

L0020 976

2X

Ceramic (NPO) 50WV

47 pF 2X

D3000126

9.0 – 9.7 MHz

L0020 977

2X

Ceramic (NPO) 50WV

39 pF 2X

Layer 1 = 2 Turn

Layer 2 = 8 Turn

Layer 3 = 6 Turn

D3000127

11.7 – 14.0 MHz

L0020 977

2X

Ceramic (NPO) 50WV

22 pF 2X

D3000128

14.0 - 17.0 MHz

L0020 977

2X

Ceramic (NPO) 50WV

10 pF 2X

D3000129

17.0 – 18.0 MHZ

L0020 977

2X

Ceramic (NPO) 50WV

7 pF 2X

Untuk modif ke band lainnya silahkan lihat daftar lilitan coil BPF beserta ukuran capacitornya pada tabel diatas.
Semua penjelasan diatas anggap saja sebagai pendahuluan dan untuk lebih jelasnya lagi, saya akan ulangi lagi dari awal sekali untuk modifikasi Yaesu FT180A ke 11.410 s/d 11.435MHz 6 channel dengan oscilator X'tal sebagai contoh.
Biar bisa bekerja pada 11.400MHz - 11.500MHz, maka kita harus buat lilitan BPF untuk frekwensi tsb, seperti keterangan pada gambar diatas.
Perhatikan susunan kaki2 pada trafo BPF tsb karena kenyatannya antara skematik dan di pcb berbeda.
Sebagai bahan panduan untuk anda cara melilitkan kawat dan menempatkan  pada kaki2 trafo BPF silahkan perhatikan pada gambar diatas.
Misalkan anda mau modif radio ini ke 11MHz, maka anda harus menentukan dulu channel berapa yang mau dipakai untuk menempatkan BPF nya yg sudah kita buat tadi untuk 11MHz.
Pengalaman saya pertama kali memodif radio ini, saya buat BPF nya sebanyak 12 buah trafo BPF.
dengan tujuan saya pada waktu itu biar bisa bekerja untuk 6 channel di 11.410, 11.415, 11.420, 11.425, 11.430 dan 11.435Mhz.
Jadi masing2 channel dari jumlah 6 channel yang tersedia terisi penuh dengan trafo BPF.
Cara tersebut sebenarnya tidak keliru cuma nggak praktis dan ekonomis saja. Selain banyak menyita waktu kita hanya untuk melilit BPF sebanyak 12 trafo untuk frekwensi yang sama hehehehe.
Lagian kerugiannya karena ke 6 channelnya sudah habis terpakai jadi nggak bisa lagi dikembangkan/ditambah lagi untuk band lain, seperti 80 meters dan 40 meters untuk selanjutnya.
Nah...sekarang bagaimana supaya cukup memakai 1 channel saja untuk modif ke 11MHz. Boleh dipakai channel 1, channel 2 atau...terserah anda di cahannel mana saja.
Yang terpenting nanti jangan sampai keliru sewaktu menjumper LPF nya, harus sesuai dengan channel yang dipakai.
Misal kalau kita memakai channel 6, maka pada jumper LPF titik channel 6 yang dijumper ke titik LPF 11.1MHz - 18.0MHz atau titik LPF paling akhir pada pcb RF Unit.
Demikian pula berlaku sama untuk channel lainnya dan pastikan pula jumper RX band dan TX band sudah dilakukan supaya signal/carriernya sampai ke titik LPF, tidak terputus ditengah jalan.
Untuk menggunakan 1 channel saja tapi bisa bekerja untuk 6 channel di 11MHz misal dari 11.410MHz sampai 11.435MHz, maka kita harus melakukan penjumperan lagi, untuk tegangan continue +8Volts ke trafo BPF yang akan digunakan, yang sebelumnya tegangan ini kita dapatkan melalui saklar rotary channel.
Jadi sebelumnya gantian setiap channelnya mendapat tegangan continue +8Volts sesuai saklar rotary channelnya apabila diputar ke arah nomer channelnya.
Misal kalau saklar rotary channel diputar menunjuk channel nomer 6, maka hanya jalur channel ini saja yang trafo BPF, serta X'tal untuk channel 6 saja yang mendapatkan tegangan +8Volts dalam artian hanya channel 6 ini saja yang sedang aktif bisa tx maupun rx, sedangkan channel lainnya posisi off, karena tidak mendapatkan tegangan 8V ke trafo BPF dan X'talnya.
Untuk modif yang pakai xtal 6 channel, dalam melakukan penjumperan tegangan continue +8Volts berlaku atau ditujukan khusus untuk BPF nya saja, sedangkan untuk oscilator xtalnya harus mengikuti perputaran saklar rotary channel karena setiap channel terisi frekwensi yang berbeda dari 11.410MHz sampai 11.435MHz supaya frekwensinya tetap berubah sesuai nomer channelnya. Jadi tidak diperlukan penjumperan, biarkan seperti aslinya saja.
Oleh karena itu maka kita hanya perlu menjumper Resistor pada BPF tanda A pada gambar diatas R15 s/d R20 dan juga resistor pada BPF tanda B pada gambar diatas R44 s/d R49 langsung ke tegangan continue +8Volts yang bisa kita dapatkan dengan cara menjumpernya dengan kabel kecil saja ke  soket yang ada tanda +8V pada J08 pin nomer 1. Tapi sebelumnya anda harus potong dulu sedikit jalur pcb yang datang dari arah soket untuk saklar rotary channel.
Potongnya dekat kaki resistornya saja biar kelihatan rapi atau kalau anda merasa sayang untuk memotong jalur pcb tsb, angkat saja sebelah kaki resistor tsb dan solderkan kabel lalu jumper ke J08 pin nomer 1 yaitu +8Volts continue.
Dengan kita melakukan jumper seperti ini tujuannya adalah sekarang walaupun saklar rotary channel kita putar dari ch 1 sampai ch 6 tidak akan berpengaruh pada pemilihan BPF nya. Tetap saja yang akan bekerja adalah sepasang BPF yang dipasang di channel 6 tadi (seperti contoh). sedangkan xtalnya berubah sesuai channel.
O'ya...untuk penjumperan tegangan +8Volts ini ke BPF tidak semua resistor R15 s/d R20 dan R44 s/d R49 dijumper. Tapi lakukan pada channel yang akan dipakai saja.
Seperti contoh : Kalau kita akan menggunakan ch 6 saja, yang sebelumnya sudah kita isi dulu dengan sepasang BPF di tanda A dan tanda B, maka resistor yang harus dijumper adalah R20 dan R49 saja. karena resistor ini untuk BPF channel 6.
Dengan demikian kita hanya perlu membuat sepasang trafo BPF saja atau hanya 2 buah saja, kemudian kita pasangkan di ch 6 tanda A dan ch 6 tanda B pada keterangan gambar diatas sebelumnya, jangan sampai kebalik trafo BPF untuk A dan untuk B.
Sebenarnya saya juga buat trafo BPF yang bisa dipasang baik di A maupun di B. Nanti berikutnya akan saya kupas juga.
PEMASANGAN X'TAL DAN MODIF CLARIFIER
Setelah semua pekerjaan modif diatas kita kerjakan...sekarang tiba saatnya memasang xtal pada X'tal Oscilator Unit serta perlu juga melakukan modifikasi clarifiernya.

X'tal Oscilator Unit Yaesu FT180A
Untuk bekerja di 11.410MHz s/d 11.435MHz X'tal yang dipasang adalah 22.1184MHz

Skematik X'tal Osc Unit Yaesu FT180A

Pada gambar diatas terlihat 6 buah xtal 22.1184MHz terpasang disetiap channel pada X'tal Oscilator Unit.Semua xtal diatas baru asal pasang saja belum dilakukan adjusment biar tepat frekwensi yang diinginkan untuk setiap channelnya.
ADJUSMENT FREKWENSI X'TAL
Untuk adjusment setiap Trimer Capacitor atau TC sbb :
Tepatkan dahulu clarifier atau potensiometer CLAR tepat pada arah jam 12, kemudian adjust trimer capacitor channel masing2 sesuai frekwensi yang kita inginkan.
Misal Ch 1 frekwensinya harus di adjust/dituning pada 11.410MHz., dengan bantuan radio lain/radio allband pada frekwensi yang diinginkan.
Contoh : Putar TC01 untuk Ch 1, sampai pas terdengar jelas atau suara feedback yang pas terdengar di radio bantuan tadi. Demikian juga berlaku cara yang sama untuk Ch lainnya sampai channel terakhir atau Ch 6.
Memang pada kenyataannya tidak semudah teori diatas untuk mendapatkan frekwensi yang diinginkan pada setiap channelnya.
Kenyataan yang terjadi untuk mendapatkan frekwensi 11.410MHz atau pada Ch 1, ternyata menurut pengalaman saya harus membuang TC01=10pF, dan menggantinya dengan sebuah coil yang dililit sekitar 10 - 20 lilit pada koker berinti ferit ukuran 5mm (bisa pakai picnic coil) dengan ukuran kawat 0.1mm atau sebesar kawatnya trafo IF atau boleh di coba2 lilitannya sampai resonan pada 11.410MHz, kalau inti feritnya diputar sebagai pengganti TC01.
Rubah jumlah lilitannya kalau dirasa kurang pas bekerja pada 11.410MHz.
Kemudian setelah frekwensi 11.410MHz sudah kita dapatkan tepat bekerja di 11.410MHz pada Ch 1, selanjutnya kita pindahkan saklar rotary channel pada Ch 2.
Untuk frekwensi 11.415MHz pada Ch 2 coba dulu putar TC02=10pF sampai pas terdengar di radio bantuan pada frekwensi yang sama. Kalau belum tepat atau dirasa kurang zerobeat dan belum juga tercapai frekwensinya walaupun kita sudah merubah capasitor pararelnya C04=30pF dengan cara menguranginya  atau memperbesar sedikit ukurannya dari 30pF, tapi jangan merubah clarifier atau CLAR tetapkan saja pada arah jam 12 biar sama hasilnya disetiap channel.
Coba lakukan hal sang sama dengan mengganti TC02 dengan sebuah coil berinti ferit untuk mengadjusnya seperti sebelumnya untuk 11.410MHz.
Apabila frekwensi 11.415MHz pada channel 2 sudah kita dapatkan dengan pas, sekarang tiba saatnya kita pindah ke channel berikutnya yaitu channel 3 harus bekerja pada 11.420MHz.
Biasanya untuk mendapatkan frekwensi 11.420MHz pada Ch 3 ini sanagat mudah tanpa harus merubah/menambahkan coil. Cukup seperti rangkaian yang sudah ada seperti aslinya. Tinggal putar saja TC03 akan langsung kita dapatkan dengan mudah frekwensinya pada 11.420MHz.
Demikian pula untuk Ch 4 atau frekwensi 11.425Mhz akan mudah juga kita dapatkan frekwensinya, dengan memutar TC04, jadi sama seperti pada Ch 3 diatas tidak perlu melakukan perubahan apapun, ya...kalaupun mungkin kurang pas buang saja/lepas capacitor C08, silahkan di coba2 saja.
Nah...untuk Ch 5 dan Ch 6 atau 11.430MHz dan 11.435MHz, buang capasitor 30pF yang pararel dengan masing2 TCnya yaitu TC05 dan TC06.
Dan khusus untuk Ch 6 biasanya kita bisa dapatkan frekwensi 11.435MHz, tapi tidak stabil, suka hilang2 dan beberapa kali kita harus mengulangi mengadjusnya lagi.
Untuk memecahkan masalah tersebut supaya stabil maka xtal 22.1184MHz untuk Ch 6 atau frekwensi 11.435MHz ini harus dipararel, jadi harus menggunakan 2 buah xtal 22.1184MHz.
Xtal pararelannya boleh dipasang dibawah pcbnya.
Demikian pula terkadang untuk Ch 5 atau 11.430MHz kurang stabil juga, maka apabila anda menemui masalah seperti ini, pararelkan juga xtalnya.
Jadi persiapan jumlah xtal yang kita perlukan untuk modif ini perlu 8 buah xtal.
Ch1=1 xtal, Ch2=1xtal, Ch3=1xtal, Ch4=2xtal dan Ch5=2xtal. Setiap xtal nilainya sama 22.1184MHz, karena Yaesu FT180A ini memakai X'tal Filter 10.7MHz.
Setelah semua adjusment/tuning untuk masing2 frekwensi/channel kita selesai, sekarang kita lakukan modifikasi untuk clarifiernya atau CLAR, pada unit X'tal Osc Unit ini.
MODIF CLARIFIER

Cara Modifikasi Clarifier atau CLAR supaya berfungsi baik RX maupun TX

Caranya sbb :
Kalau anda melihat skema dari X'TAL OSC UNIT ini, maka akan terlihat untuk rangkaian clarifiernya secara default dari pabriknya, pada saat tx potensiometer CLAR tidak berfungsi walaupun di putar2, karena pada waktu tx tegangan TX 8V masuk kerangkaian clarifier untuk tx tanpa melalui potensiometer CLAR yang knobnya di cover depan radio, dan tegangan TX 8V ini keluar pada saat tx saja.
Pada saat rx, tegangan RX 8V masuk ke rangkaian clarifier rx yang tegangannya bisa diatur/dirubah dengan memutar potensiometer CLAR
Jadi kesimpulannya CLAR hanya berfungsi pada saat RX saja secara default dari pabriknya.
Sekarang bagaimana caranya supaya CLAR tsb bisa berfungsi pada RX maupun TX ?
Caranya cukup mudah tinggal memotong 2 buah kabel saja yang berwarna MERAH untuk TX 8V dan yang berwatna Orange untuk RX 8V (atau lihat skema X'tal Osc Unit) dan warna kabel yang saya sebutkan bisa dilihat langsung di pcb X'tal Osc Unit nya.
Setelah kedua kabel tadi kita potong, kemudian solderkan sedikit kabel kecil saja pada titik RX 8V yang sudah dipotong tadi dan ujung kabel yang lainnya solderkan ke titik 8V continue.
Untuk mendapatkan tegangan 8V continue bisa diambil di titik 8V atau pada ujung R20 dengan C19 pada pcb yang sama untuk X'tal Osc Unit (lihat skema).
Bekas titik TX 8V yang sudah dipotong tadi biarkan saja karena nggak dipergunakan lagi.
Selesai sudah untuk cara modif CLAR nya.

Rasanya sudah selesai bahasan kita tentang modif Yaesu FT180A ke 11.410MHz - 11.435MHz dengan Xta'l Oscilator.
ADJUSMENT COIL BPF
Sudah merupakan keharusan apabila kita sudah menyelesaikan modif apalagi ada hubungannya dengan lilitan/coil yang sudah kita buat seperti coil BPF, maka harus dilakukan adjusment/tuning  dengan memutar inti feritnya dari coil tersebut.
Setelah semua langkah2 modif sudah lengkap dilakukan, sekarang tiba satnya untuk proses adjusment.
Untuk keterangan lengkap proses cara adjusment ini sudah  tersedia di buku manualnya.
saya hanya akan menerangkan sedikit saja sbb :
Setelah proses tuning xtal untuk setiap channel selesai dilakukan, sekarang kita fokus pada receive/rx dulu dengan cara :
Setelah antenna dipasang di soketnya, coba temukan rekan2 yang sedang berkomunikasi di salah satu channel yang sedang ada penghuninya, kemudian putar inti ferit coil BPF secara bergantian, coil BPF - A dan coil BPF - B sampai jarum indikator S meter menunjuk paling besar signalnya ke kanan dan akan disertai pula dengan besarnya audio yang terdengar di speaker radio.
Kemudian sekarang coba transmit, untuk mengadjust coil BPF pada waktu transmit/tx biar akurat proses penyetelan coil BPF nya jangan menekan PTT Mic dulu, tapi tekan kebawah ke posisi CALL saklar FUNCTION - CALIB - CALL dan akan terdengar nada tone pada speaker radio.
Nada tone ini untuk keperluan adjusment/tuning pada waktu transmit/tx sebagai pengganti audio mudulasi, jadi hasil tuningnya akan lebih akurat daripada menggunakan audio untuk modulasi dari suara manusia lewat microphone yang tidak tetap levelnya pada mode ssb.
Ketika kita menekan saklar ke posisi CALL sambil menahannya, putar inti ferit coil BPF di A maupun di B secara bergantian, sambil memperhatikan jarum indikator power output tx atau PO yang paling besar menunjuk ke arah kanan. atau lebih baik pakai PO/SWR meter yang dipasang di antara out radio dan dummy load atau antenna.
Untuk proses tuning tx dan rx selanjutnya silahkan dipelajari sendiri pada buku manual FT180A.
MENGGANTI X'TAL DENGAN PLL/FLL/DDS DLL

Cara menginjeksikan PLL/FLL dll.

Apabila anda mau mengganti xtal dengan rangkaian lain seperti PLL/FLL dll, caranya output dari PLL/FLL tsb tinggal di injeksikan saja di kaki basis transistor Q01 pada X'tal Osc unit seperti pada skematik diatas yang sebelumnya harus anda potong dulu jalur pcbnya yang menuju ke dioda switch channel D01 s/d D06 (lihat skematik diatas)
Rangkaian PLL yang menggunakan ic TC9122 yang sudah saya posting beberapa waktu lalu juga bisa dipergunakan disini, atau silahkan bisa juga anda menggunakan rangkaian PLL/FLL/DDS lainnya.
Silahkan klik link dibawah ini untuk PLL denagn TC9122
PLL UNTUK 11MHz DENGAN TC9122

PLL untuk 11MHz dengan TC9122

DDS

Berbagai macam DDS yang bisa dipergunakan

Atau bisa juga menggunakan rangkaian HXO atau campuran antara frekwensi VFO dengan X'tal Oscilator. Silahkan klik link dibawah ini
OSCILATOR 3 BAND 80, 40, 26 METERS UNTUK YAESU FT180A DLL

HXO 26, 40, 80 Meters Band

Skematik diatas sebenarnya saduran dari skematiknya X'tal Osc Unit Yaesu FT180A yang kemudian saya modif sedikit dengan menambahkan rangkaian Ballance Dioda Mixer untuk mencampur antara frekwensi dari VFO dan X'tal Oscilator.
VFO bisa menggunakan bekas/lepasan VFO radio Kenwood TS120S atau TS130S atau bahkan bisa juga menggunakan VFO buatan sendiri.
COIL BPF VERSI LAIN
Sebelum saya mengakhiri pembahasan sesi terakhir ini, seperti yang sudah saya janjikan diatas bahwa saya akan mengupas juga tentang cara membuat lilitan coil BPF yang pemasangannya boleh terbalik, jadi bisa dipasang di tanda BPF - A maupun di B, bolak balik boleh.
Saya coba membuat coil BPF versi lain, yang dibuat pada koker bobin 5mm dengan ukuran kawat sama seperti ukuran kawatnya trafo IF 10.7MHz. Tetapi saya buat antara kaki B - A saya jumper dengan selembar serabut kabel kecil, jadi tidak ada lilitannya.
Untuk lebih jelasnya biarkanlah gambar berikut yang akan berbicara dan menjelaskan pada anda.

Coil BPF untuk 11MHz yang dililit pada koker bobin 5mm

Coil BPF ini pada pemasangnnya boleh tertukar bisa di BPF tanda A pada gambar RF Unit diatas atau bisa juga di B.
Namun apabila kita memperhatikan skematik RF Unit, kalau coil BPF yang dipasang di tanda B, bagian lilitan sekundenya atau D - E memang tidak difungsikan. lilitan bagian sekunder D - E hanya berfungsi kalau dipasang di tanda A saja (lihat skematik RF Unit).
Tapi tetap saja dibuat lilitan bagian sekunder atau D - E coil BPF ini walaupun mau dipasang di B, tujuannya biar kebalikpun tidak masalah. jadi kita menyimpan stok coil BPF ini bisa bebas bercampur, dan dalam pemasangnnya pada pcb tempat coil BPF bebas saja tidak usah berfikir mana yang harus dipasang di A dan mana yang harus dipasang di B :-)
Pada beberapa modif yang saya lakukan untuk FT180A ke 11MHz ini, coil BPF inilah yang selalu saya pakai.

MODIFIKASI SEDERHANA YAESU FT180A

dari :

YC3LSB
https://sites.google.com/site/yc3lsbqrp

Sudah beberapa tahun  salah satu koleksiku Yaesu FT180A tidak saya pergunakan alias hanya saya taruh aja di rak radio ( buat hiasan kali ha ha ha ha )


Yaesu FT180A ini sudah saya modifikasi bekerja pada 3 Band 80M, 40M satunya dulu masih ramainya berorong orong ria di 10Mc setelah itu saya rubah di 11Mc. Sekarang hanya tinggal unit radionya saja dan oscilator lokalnya sudah pada berantakan. Saya sudah mencobanya beberapa oscilator lokal untuk Yaesu FT180A ini. Dan dengan sedikit penjelasan ini saya berharap teman2 amatir dapat memodifikasi sendiri Yaesu FT180A nya etung2 biar bisa modifikasi sendiri radionya asikkan kalo bisa modifikasi sendiri untuk ascesories yang lain bisa dilihat pada blok teman amatir yang lain tentang modifikasi Yaesu FT180A seperti blognya OmCholis YD1CHS, Om Putut YD3DKP dari kediri dan lain2.

SYSTEM PENYUNTIKAN OSCILATOR LOKAL UNTUK YAESU FT180 A

  • Dua Band VFO ( cara yang seperti ini yang paling mudah dan murah )
  • Dengan Heterodyne Frekwensi Oscilator ( HFO ) yaitu pencampuran Frekwensi dari VFO dengan Oscilator Kristal seperti pada homebrew dua band saya dengan IF 10.7 Mc
  • PLL TC9122 Sytem sama dengan mempergunakan HFO hanya frekwensi VFO kita dapatkan dari frekwensi PLL
  • Memanfaatkan PLL dari Radio CB 27 Mc yang sudah tidak dipakai system juga tidak beda jauh dengan yang diatas.
  • Memanfaatkan HT 2 meteran dari Icom IC2N ( mahal dan sayang masalahnya radionya masih bisa dipakai mojok )

Menurut saya ada beberapa persyaratn dalam memodifikasi radio ini / radio tipe komersial, tidak hanya Yaesu FT180A saja

KRITERIA – KRITERIA YANG HARUS DIPENUHI DALAM MEMODIFIKASI RADIO KOMERSIAL

  • Radio yang akan kita Modifikasi harus dalam keadaan masih dapat bekerja dengan normal baik TX / RX
  • Tersedianya Band Pass Filter untuk dapat bekerja pada frekwensi yang akan kita kerjakan
  • Tersedianya Low  Pass Filter untuk dapat bekerja pada frekwensi yang akan kita kerjakan
  • Apabila kedua seperti point diatas ( Band Pass Filter / Low Pass Filter ) tidak ada berarti kita harus membuatnya sendiri. catatan untuntuk Yaesu FT180A kebetulan untuk Low Pass Filter sudah tersedia dan bekerja pada Frekwensi mulai 2 Mc s/d 18 Mc untuk Band Pass Filternya belum tentu tergantung kita dapat radio tersebut awalnya dikerjakan pada frekwensi brapa ?
  • Harus mengetahui  bagian – bagian dari radio tersebut mana bagian AF Amplifier, bag. Modulator, bag. IF unit baik TX atau RX, RF Unit  baik TX atau RX, bag. RF PA. dan bagian Low Pass Filter
  • Juga harus mengetahui sitem perkabelan daripada masing2 unit agar radio tersebut bisa bekerja dengan maksimal.
  • Tentunya harus mempunyai alat pendukung untuk mengerjakan proyek terseut, Harus ada AVO meterRF Meter, SWR Meter, Frekwensi Counter kalo saya pinjam ke temen lokal masalahnya saya gak punya he he he he, dan juga kita harus mempunyai Skema dari radio tersebut ( jangan kuatir teman kita punya skema manual  dari radio tersebut scan dari buku sory Yaesu ha ha ha ha. anda bisa download di halaman File skema dan manual : Yaesu FT180A tentunya,
BLOC DIAGRAM YAESU FT180A

BEBERAPA HAL TENTANG MODIFIKASI YAESU FT180A :

  • Pertama kali kita mendapatkan radio tersebut biasanya bekerja pada USB karena padaYaesu FT180A pemindaham mode LSB / USB yaitu pada cristal filternya pada umumnya hanya ada satu kristal filter yang bekerja untuk USB disitu ada dua cuma yang satu untuk cristal filter mode AM , Ada dua cara agar dapat bekerja di LSB pada 80M dan 40M band pertama oscilator Lokal dikerjakan di bawah frekwensi IF pada Yaesu FT180A yang sering kita dapatkan If  TX atau RX bekerja pada 10.7 MC LSB dengan  Perhitungan Contoh di 80m band bekerja pada frekwensi 3.8mc s/d 3.9mc adalah 10.7mc – 3.8mc = 6.9mc ( Frekwensi VFO untuk  frekwensi bawah ) 10.7mc – 3.9mc = 6.8mc ( Frekwensi VFO untuk frekwensi atas ) Kesimpulan dari perhitungan diatas untuk dapat bekerja pada frekwensi 3.8mc s/d 3.9mc oscilator lokal frekwensi yang diperlukan adalah antara 6.8mc s/d 6.9mc demikian juga perhitungan tersebut juga berlaku untuk bekerja di 40m band untuk bekerja pd frekwensi 7.0mc  s/d 7.2mc frekwensi VFO yang diperlukan adalah 3.5mc s/d 3.7mc. Dengan range frekwensi pada kisaran seperti diatas baik untuk 80m atau 40m tidak terlalu sulit kita membuatnya seperti tuliasn saya sebelumya Dua Band VFO tetapi untuk VFO tersebut kestabilannya masih kurang memuaskan tetapi sudah cukup lumayan untuk dipergunakan QSO singkat seperti pada event contest, mudah2an dengan penjelasan sederhana ini bisa dimengerti
  • Dengan memodifikasi BFO ini kita lakukan apabila ingin megerjakan radio tersebut untuk dapat bekerja dengan mode LSB / USB dengan mempergunakan cristal flter USB bawaan asli dari yaesu FT180A, frekwensi BFO pd yaesu ft180a adalah sekitar 10.7 mc dengan frekwensi cristal filter yang terpasang adalah 10.698475 MHzmemanfaatkan bagian clarifier BFO  tsb menjadi fix pada frekwensi yang dibutuhkan. Dengan system Modifikasi BFO seperti ini Frekwensi lokal Oscilator dikerjakan diatas IF 10.7Mc dengan perhitungan 10.7Mc + Frekwensi kerja = frekwensi Local Oscilator contoh di 80M ………3.8Mc + 10.7Mc = 14.1Mc begitu juga di 40M band untuk cara yang seperti ini Lokal Oscilator kita buat dengan sisitm HFO ( Heterodyne Frekwensi Oscilator ) untuk rangkaian bisa dilihat pada Posting saya yang dahulu mengenai Homebrew Dua Band dengan IF 10.7Mc dengan menggunakan VFO, PLL atau rangkaian VXO (Variable Freqwensi Oscilator yang kita mixing dengan Oscilator Cristal sesuai dengan band frekwensi yang kita inginkan. frekwensi BFO adalah 10.7 Mc ( 10.700000 Mc ) pada Mode USB  agar bisa bekerja pada mode LSB frekwensi BFO harus kita turunkan sekitar antara 1.5 Kc sampai 2.2 Kc dibawah dari frekwensi cristal filteryaitu sekitar ( 10.696400 Mc ), pada rangkaian BFO di skema yaesu FT180A kita memanfaatkan bagian clarifier BFO  tsb menjadi fix pada frekwensi yang dibutuhkan. Dengan system Modifikasi BFO seperti ini Frekwensi lokal Oscilator dikerjakan diatas IF 10.7Mc dengan perhitungan 10.7Mc + Frekwensi kerja = frekwensi Local Oscilator contoh di 80M ………3.8Mc + 10.7Mc = 14.1Mc begitu juga di 40M band untuk cara yang seperti ini Lokal Oscilator kita buat dengan sisitm HFO ( Heterodyne Frekwensi Oscilator ) untuk rangkaian bisa dilihat pada Posting saya yang dahulu mengenai Homebrew Dua Band dengan IF 10.7Mc dengan menggunakan VFO, PLL atau rangkaian VXO (Variable Freqwensi Oscilator yang kita mixing dengan Oscilator Cristal sesuai dengan band frekwensi yang kita inginkan.
  • Band Pass Filter bisa dipakai dari bawaan radio tersebut tinggal di coba dengan memperkecil nilai capasitor pararel dengan trafo nya ( kalo untuk pada band 80m masih bisa tetapi untuk band diatas 80m kita masih mengurangi beberapa lilit dari trafo tsb ).
  • Yang perlu kita pahami dari masing2 blok radio tsb adalah 1. RF unit dimana kita harus memeprhatikan pada frekwensi berapa dia bekerja ( dengan melihat frekwensi kristal yang terpasang ingat disitu yang tertera adalah frekwensi kerja bukan frekwensi asli dari kristal tsb aslinya frekwensi kerja plus frekwensi if ) 2. Jalur Swiching  low pass filter harus sinkron dengan jalur swiching pada rf unit contoh pada chanel 1 low pas filter harus sesuai dengan frekwensi band pass filter. Itu semua bisa dipahami dengan membaca dengan teliti bagian2 tersebut pada buku naual teknisnya saya kitra tidak terlalu sulit asal kita sabar dan telaten saja pasti bisa.
  • Untuk blok dari local oscilator radio tersebut sambungan dari vcc dan out put ke rf unit kita potong dalam aertian blok local oscilator tersebut tidak di aktifkan lalu input local oscilator di rf unit kita beri input local ascilator yang akan kita pasang.

Pengaruh SunSpot Terhadap Propagasi

Dari Kaskus: All About HF Band (High Frequency).
Semoga bermanfaat.

 

Ionisasi yang terjadi pada lapisan ionosphere disebabkan oleh sinar matahari, ialah pelucutan elektron-elektron dari atom-atom gas pada lapisan ionosphere, sehingga terjadilah ion-ion (ion adalah atom yang kehilangan sebagian elektronnya sehingga bermuatan listrik). Terjadinya serta kondisi lapisan ionosphere tergantung pada aktivitas matahari.
Matahari adalah bola raksasa dari plasma (plasma adalah atom yang kehilangan seluruh elektronnya) dan disitu terjadi reaksi nuklir fisi.
Reaksi nuklir fisi adalah reaksi penggabungan inti-inti atom ringan dan dalam reaksi ini terjadilah pelepasan tenaga ikat (binding energy) dari inti-inti atom yang mengadakan reaksi. Tenaga ikat yang berupa sebagian massa inti atom itu berubah menjadi energi yang sebagian besar berujud pancaran thermis atau pancaran sinar panas.
Aktivitas reaksi inti tersebut tidak merata pada seluruh permukaan matahari, ada daerah-daerah tertentu di permukaan matahari dimana terjadi aktivitas yang sangat tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah permukaan matahari yang lain. Apabila kita amati foto permukaan matahari, maka daerah yang aktivitasnya memuncak tersebut terlihat sebagai bintik hitam yang terkenal dengan nama bintik-bintik matahari atau sun spot.
Oleh karena matahari mengadakan rotasi (berputar pada porosnya) maka sun spot tersebut kelihatan bergerak dan akan tidak terlihat lagi setelah 28 hari. Banyaknya jumlah sun spot pada permukaan matahari menunjukkan derajad aktivitas dari matahari dan ini akan berpengaruh terhadap pembentukan ionosphere. Makin banyak sun spot yang terjadi, makin sempurna ionisasi lapisan ionosphere sehingga makin bagus ionosphere memantulkan gelombang radio dan dengan demikian kondisi propagasi gelombang radio menjadi makin baik.
Aktivitas matahari ini pada waktu tertentu naik dan pada waktu tertentu menurun, naik turunnya berlangsung secara teratur. Periodisasi naik dan turunnya aktivitas matahari berkisar antara 9 dan 13 tahun, atau rata-rata setiap 11 tahun.
Pada sekitar tahun 1989 sampai 1992 aktivitas matahari berada pada tingkat puncak, kemudian makin menurun dan akan menduduki puncaknya kembali 11 tahun kemudian. Tingkat aktivitas matahari ditandai dengan timbulnya banyak sun sop di permukaan matahari. Kondisi propagasi pada posisi puncak akivitas matahari ini sangat dinantikan oleh para amatir radio penggemar komunikasi jarak jauh.
Pembiasan ini terjadi karena gelombang elektromagnetik bergerak melewati medium dengan kerapatan yang berbeda dan mengakibatkan perubahan pada vector kecepatan gelombang dan dengan demikian arah gerakannya akan terbias. Pembiasan yang terjadi pada lapisan troposphere ini terjadi berulang-ulang.
Phenomena lain yang terjadi dengan gelombang radio terutama pada frekuensi antara 50-60 MHz (VHF) ialah tropospheric scattering. Dengan kemampuan troposphere mengadakan scattering pada gelombang radio, maka gelombang radio pada band 6 meter tersebut di atas, setelah masuk kelapisan troposphere dapat bergerak mengikuti lengkungan lapisan troposphere dan tidak tembus ke angkasa luar.
Gerakannya mengikuti lapisan troposphere ini dapat mencapai jarak yang cukup jauh, ialah dapat mencapai jarak puluhan ribu kilometer. Pada suatu tempat yang sangat jauh tersebut, ia dapat dibiaskan kembali ke bumi dan dapat ditangkap oleh pesawat radio di tempat tersebut.
Kondisi troposphere yang memberikan kemungkinan untuk mengadakan komunikasi jarak jauh tersebut di atas tidak terjadi setiap saat. Berbeda halnya dengan kondisi propagasi ionospheric pada band HF, maka kapan terjadinya kondisi propagasi tropospheric yang baik seperti tersebut di atas belum cara peramalan yang seksama.
Kecuali propagasi tropospheric, komunikasi teresterial jarak jauh pada band VHF dapat pula dilakukan dengan bantuan benda-benda angkasa. Benda-benda angkasa seperti bulan dan batu meteor mempunyai kemampuan pula untuk memantulkan gelombang radio kembali ke bumi. Rekan-rekan amatir telah banyak mengadakan kegiatan eksperimen komunikasi jarak jauh dengan menggunakan pantulan bulan pada band VHF yang disebut Earth Moon Earth (E.M.E).
Rekan-rekan amatir radio dari beberapa negara biasanya membuka E.M.E. communication pada setiap DX-pedition.
Jumlah sun spot yang terjadi pada suatu waktu tertentu diberikan ukuran dengan istilah sun spot number. Angka ini sangat berguna untuk peramalan kondisi propagasi pada suatu waktu tertentu. Pada saat ini telah tersedia suatu program komputer yang digunakan untuk meramalkan kondisi propagasi dan untuk mengadakan ramalan tersebut diperlukan masukan berupa sun spot number yang bisa didapatkan dari internet. Ramalan propagasi ini sangat berguna terutama bagi rekan-rekan amatir radio yang gemar mengikuti kontes-kontes radio internasional.
Propagasi Tropospheric
Berbeda dengan ionosphere yang merupakan andalan propagasi gelombang radio high frekuensi yang dipancarkan secara teresterial, maka berikut ini kita menengok sejenak ke lapisan lain yang juga menyelimuti bumi, ialah troposphere. Troposphere adalah suatu lapisan pada atmosphere bumi dengan ketinggian sekitar 10 kilometer, lapisan ini terdiri terutama atas gas oksigen, gas nitrogen uap air dan kristal es, ia mempunyai arti tersendiri pada propagasi dengan kemampuannya mengadakan pembiasan dan scaterring (pembauran) gelombang elektromagnetik.
Pantulan Benda-Benda Angkasa
Kecuali bulan, batu-batu meteor dapat pula dimanfaatkan untuk membantu komunikasi jarak jauh pada band VHF.
Kita tahu bahwa setiap periode waktu tertentu, bumi kita dalam peredarannya bergerak melewati daerah meteor. Ini ditandai dengan adanya hujan meteor, ialah suatu pesta kembang api di angkasa. Pada tahun 1999 untuk waktu beberapa hari, bumi melewati daerah meteor ini. Amatir radio banyak bereksperimen komunikasi pada band VHF dengan memanfaatkan kemampuan meteor memantulkan gelombang radio.

Ionosphere

Dari Kaskus: All About HF Band (High Frequency).
Semoga bermanfaat.

 

Ionosphere yang menyelimuti bumi kita ini dapat terdiri atas beberapa lapis, antara lain yang disebut lapisan D, E dan lapisan F. Lapisan D adalah lapisan yang paling rendah, sedangkan E adalah lapisan di atasnya dan disusul dengan lapisan F yang merupakan lapisan teratas. Tinggi lapisan F adalah sekitar 280 kilometer sedangkan lapisan E sekitar 100 kilometer diatas permukaan bumi.
Pada siang hari lapisan F terpecah menjadi dua ialah F1 dan F2 masing-masing mempunyai ketinggian sekitar 225 kilomter dan 320 kilometer. Sedangkan pada malam hari kedua lapisan tersebut bergabung lagi menjadi satu lapisan tunggal ialah lapisan F. Lapisan F inilah yang mempunyai arti penting dalam pancaran gelombng radio teresterial, dimana komunikasi jarak jauh bersandar kepada kondisi lapisan ini.
Kesempurnaan pemantulan yang dilakukan oleh lapisan ionosphere cenderang tergantung kepada kesempurnaan ionisasi dari lapisan tersebut. Lapisan ionosphere yang terionisasi secara sempurna merupakan lapisan yang masif dan mempunyai daya pantul cukup baik pada gelombang radio. Kondisi propagasi pada malam hari dalam keadaan normal sehari-hari pada umumnya cenderung lebih baik daripada siang hari. Hal ini disebabkan karena pada siang hari terjadi terjadi lapisan ionosphere tambahan (lapisan D) yang terionisasi kurang sempurna sehingga menghambat pantulan gelombang radio kembali ke bumi.
Kekuatan pemantulan oleh lapisan ionosphere cenderung tergantung kepada kesempurnaan ionisasi lapisan tersebut. Lapisan ionosphere yang ter-ion secara sempurna merupakan lapisan yang masif dan mempunyai daya pantul baik terhadap gelombang radio. Kondisi propagasi pada malam hari cenderung lebih baik daripada siang hari. Hal ini disebabkan karena pada siang hari terjadi lapisan D yang terionisasi kurang sempurna dan menyerap gelombang radio terutama pada band 160 dan 80 meter.
Fading yang kadang-kadang kita alami disebabkan karena kedaan ionisasi lapisan ionosphere yang tidak stabil.
Phenomena alam lainnya terjadi pada saat matahari terbit dan pada saat matahari terbenam dimana komunikasi jarak jauh pada low band menjadi sangat baik.
Para penggemar komunikasi jarak jauh, terutama pada low band sering menggunakan kesempatan ini untuk dapat berkomunikasi dengan rekan-rekan amatir ditempat yang jauh, phenomena alam semacam ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pada waktu matahari mulai terbit, mulailah terjadi lapisan ionosphere tambahan dibawah lapisan ionosphere utama dan ujung dari lapisan ionosphere tambahan, yang biasa disebut grey area, mempunyai sifat dapat membiaskan pancaran gelombang radio sedemikian rupa sehingga mencapai lapisan ionosphere utama dengan sudut kecil sehingga pantulannya ke bumi lebih jauh. Suatu jarak tertentu yang biasanya dicapai dengan multiple hop pada saat tersebut bisa dicapai dengan single hop.
Sifat lain dari ionosphere ialah bahwa ionisasi yang terjadi tidak selalu dapat merata pada seluruh bidang ionosphere, kondisi semacam ini sering kali dialami oleh para penggemar komunikasi jarak jauh. Biasanya para penggemar komunikasi jarak jauh menggunakan antena pengarah dan untuk komunikasi dengan rekan misalnya dengan stasiun dari Jepang ia mengarahkan antenanya ke arah utara (short path), akan tetapi pada suatu saat tertentu antena harus diarahkan ke selatan (berbalik 180 derajat) untuk memperoleh signal yang lebih besar (long path). Hal ini disebabkan karena kondisi ionosphere di belahan bumi selatan lebih bagus daripada belahan bumi sebelah utara.

Band HF (High Frequency).

Dari Kaskus: All About HF Band (High Frequency).
Semoga bermanfaat.

 

Berbicara tentang HF band, tentu tidak sama dengan VHF atau UHF.
Kalau VHF / UHF faktor power sangat dominan (disamping antena tentu), kalau di HF banyak faktor.
Bahkan dengan low power 10 watt saja dari batam bisa komunikasi dengan kebumen - jateng.
Salah satu faktor yang berpengaruh juga adalah PROPAGASI.
Apabila kita berbicara tentang propagasi maka kita menyentuh pengetahuan yang berhubungan dengan pancaran gelombang radio. Seperti kita ketahui bahwa apabila kita transmit, pesawat kita memancarkan gelombang radio yang ditumpangi oleh audio kita. Gelombang radio tadi diterima oleh receiver lawan bicara kita dan oleh receiver itu gelombang radionya dihilangkan dan audio kita ditampung melalui speaker.
Gelombang radio yang dipancarkan tadi berupa gelombang elektromagnetik bergerak menuruti garis lurus. Gelombang radio mempunyai sifat seperti cahaya, ia dapat dipantulkan, dibiaskan, direfraksi dan dipolarisasikan. Kecepatan rambatanya sama dengan kecepatan sinar ialah 300.000 km tiap detik Dapat kita bayangkan bila gelombang radio bisa mengelilingi dunia, maka dalam satu detik bisa keliling dunia 7 kali.
Kita ketahui bahwa dunia kita berbentuk bulat seperti bola, akan tetapi pancaran gelombang radio high frequency dari Indonesia bisa sampai di Amerika Serikat yang terletak dibalik bumi sebelah sana, padahal ia bergerak menuruti garis lurus. Phenomena alam seperti tersebut tadi dapat dijelaskan sebagai uraian di bawah ini.
Di angkasa luar, ialah di luar lapisan atmosphere bumi terdapat lapisan yang dinamakan ionosphere. Ionosphere adalah suatu lapisan gas yang terionisasi sehingga mempunyai muatan listrik, lapisan ini berbentuk kulit bola raksasa yang menyelimuti bumi. Lapisan ini dapat berpengaruh kepada jalannya gelombang radio.
Pengaruh-pengaruh penting dari ionosphere terhadap gelombang radio adalah bahwa lapisan ini mempunyai kemampuan untuk membiaskan dan memantulkan gelombang radio. Kapan gelombang radio itu dipantulkan dan kapan gelombang radio dibiaskan atau dibelokkan tergantung kepada frekuensinya dan sudut datang gelombang radio terhadap ionosphere.
Frekuensi gelombang radio yang mungkin dapat dipantulkan kembali adalah frekuensi yang berada pada range Medium Frequency (MF) dan High Frequency (HF). Adapun gelombang radio pada Very High Frequency (VHF) dan Ultra High Frequency (UHF) atau yang lebih tinggi, secara praktis dapat dikatakan tidak dipantulkan oleh ionosphere akan tetapi hanya sedikit dibiaskan dan terus laju menghilang ke angkasa luar. Gelobang radio yang menghilang ke angkasa luar tadi dalam istilah propagasi dikatakan SKIP.

 

Oleh karena gelombang radio pada range MF dan HF dapat dipantulkan oleh ionosphere, maka gelombang yang dipancarkan ke udara dapat balik lagi ke bumi di tempat yang cukup jauh. Oleh bumi gelombang tadi dapat dipantulkan lagi balik ke angkasa dan oleh ionosphere dipantulkan ulang balik ke bumi.
Dengan pantulan bolak balik ini, maka gelombang radio dapat mencapai jarak sangat jauh dan dengan demikian dapat mencapai belahan bumi di balik sana.
Dalam istilah propagasi, pantulan yang hanya sekali bolak balik dinamakan single hop dan yang berkali-kali dinamakan multiple hop. Sudah barang tentu dalam perjalanannya, gelobang radio akan mengalami pengurangan kekuatannya dan juga efisiensi setiap kali pantulan akan mengurangi pula kekuatan gelombang radio sehingga pancaran dengan multi hop akan lebih lemah dibanding dengan single hop.
Hubungan Frekuensi dan Pantulan
Makin tinggi frekuensi gelombang radio, dapat dikatakan secara praktis makin sulit dipantulkan oleh ionosphere. Untuk gelombang yang cukup rendah misalnya pada band 160 meter, gelombang yang dipancarkan hampir tegak lurus ke atas dapat dipantulkan balik ke bumi.
Dengan sudut pantul yang hampir tegak lurus tersebut, jarak capai kembali ke bumi relatif sangat dekat (untuk single hop). Untuk mencapai jarak yang jauh diperlukan multiple hop, dan sudah barang tentu kekuatanya menjadi lemah, sihingga untuk mencapai jarak yang cukup jauh pada band tersebut atau band-band rendah yang lain diperlukan daya pancar pesawat yang relatif lebih besar.
Makin tinggi frekuensi gelobang radio, agar dapat dipantulkan oleh ionosphere diperlukan sudut yang makin kecil. Dengan sudut pantul yang kecil tersebut jarak capai pantulannya ke bumi makin jauh. Pada Very High Frequency sudut pantul yang diperlukan sangat kecil sehingga secara praktis tidak mungkin dilakukan. Kita telah rasakan bersama bahwa apabila kita bekerja pada band 10 meter, dengan daya pancar yang relatif kecil, misalnya 5 Watt sudah dapat mencapai benua Amerika dan benua Eropa.
Agar kita mendapatkan sudut pancaran yang efektif untuk setiap band frekuensi, diperlukan pemilihan jenis antena yang tepat. Setiap jenis antena cenderung mempunyai pola radiasi yang berbeda dan dengan mempelajari berbagai pola radiasi dari berbagai jenis antena, kita dapat memperoleh jenis antena yang tepat untuk band-band tertentu.
Dengan sifat gelombang MF dan HF seperti telah diuraikan tadi, maka untuk keperluan komuniksi jarak jauh kita cenderung menggunakan high frequency.
Karena gelombang radio pada high frequency dapat mencapai jarak yang jauh dengan hanya mengharapkan bantuan dari benda-benda alam yang ada disekeliling bumi atau dikatakan pancaran secara teresterial.
Dengan dikembangkannya satelit komunikasi radio yang dapat bertidak sebagai repeater atau pancar ulang, maka teknologi ini memberikan era baru dalam propagasi radio, ialah dengan dimungkinkannya pancaran pada band-band frekuensi di atas HF untuk mencapai jarak jauh.
Oleh karena secara praktis gelombang radio pada range di atas HF tidak dipantulkan oleh ionosphere, maka ia dapat menembus angkasa luar dengan efisien dan mencapai satelit dengan baik.

Jarak SKIP (SKIP Distance)
stilah skip dapat diterjemahkan sebagai menghilang, artinya gelombang radio tadi tidak terpantul kembali lagi ke bumi akan tetapi menghilang ke angkasa luar. Gelombang radio pada band tinggi yang dipancarkan ke udara dengan sudut yang besar tidak dipantulkan lagi ke bumi dan menghilang ke angkasa. Ini amat dirasakan apabila kita bekerja pada band-band 15, 12 dan 10 meter. Gelombang radio pada frekuensi-frekuensi ini tidak dapat mencapai jarak yang dekat, karena untuk mencapai jarak dekat diperlukan sudut yang basar padahal gelombang dengan sudut besar tidak dipantulkan balik ke bumi.
Sebenarnya transmisi kita untuk dapat mencapai stasiun lawan tidak hanya lewat pantulan ionosphere yang disebut sky wave, akan tetapi sebagian transmisi dipancarkan juga secara langsung atau ground wave. Akan tetapi pancaran yang melalui ground wave ini tidak dapat mencapai jarak jauh, hanya beberapa kilometer saja, sehingga harapan untuk dapat melakukan komunikai jarak jauh cenderung bersandar kepada sky wave.
Jarak terjauh dari pemancar kita yang tidak dapat menerima pancaran kita melalui sky wave disebut jarak skip atau skip distance.
Sedangkan daerah yang tidak dapat dijangkau oleh pancaran radio karena jarak yang terlalu dekat untuk suatu frekuensi tertentu, sehingga pancaran gelombang radio skip ke angkasa luar disebut daerah skip atau skip zone.
Skip zone benbentuk gelang mengelilingi pemancar kita dengan diameter dalam sejauh pancaran gound wave dan diameter luar sejauh skip distance. Oleh karena jarak capai ground wave sangat kecil, maka praktis diameter dalam dari skip zone diabaikan sehingga skip zone berbentuk lingkaran dengan diameter sebesar skip distance.

Istilah pada HF Band

Dari Kaskus: All About HF Band (High Frequency).
Semoga bermanfaat.


ALL Mode = Radio mencakup mode AM/FM/SSB/CW/RTTY
ALL BAND = Radio mencakup semua band (160 - 10 meter)
USB = Upper Side BAnd (biasanya dipakai diatas 7 Mhz)
LSB = Lower Side band )biasanya dipakai dibawah 7 Mhz)
CW = morse

Jelajahi Band HF Kita

Begitu kita memperoleh IAR, baik untuk tingkat Pemula atau Siaga, pada saat itulah kita secara
resmi bergabung dengan sebuah komunitas internasional yang bernama "Amatir Radio" dengan
semboyan "One World, One Language".

Oleh: Firson Maryutenli - YD1BIH

Inilah nilai lebih dari amatir radio, dengan sebuah meja di sudut
dapur, di suatu daerah yang terpencil, dengan perangkat radio
buatan sendiri yang beroperasi di band 15 meter dengan daya 10
watt, antenna dipole di halaman rumah yang disangga dengan
bambu, kita dapat berkomunikasi dengan masyarakat amatir radio
internasional di seluruh penjuru dunia. Sebelum internet bisa
menjelajah dunia dengan satu klik, amatir radio sudah
melakukannya semenjak 70 tahun yang lalu.
Banyak cara untuk melakukan komunikasi jarak jauh, beberapa
orang melakukannya dengan satelit, lain orang melakukannya
dengan menembakkan signal radio ke bulan, yang lainnya dengan
sabar menunggu jatuhnya meteor dan selanjutnya menembakkan
sinyal radio ke arah meteor tersebut, cara cara seperti ini
memerlukan keahlian yang tinggi, dan memungkinkan signal VHF
menempuh jarak yang sangat jauh.
Ada cara yang relatif mudah dan murah untuk memancarkan
gelombang radio jauh melintasi bumi: bekerjalah di band HF.
Amatir radio --sesuai dengan tingkatannya-- diijinkan beroperasi
di banyak band HF. Hampir semua band di HF memungkinkan
kita untuk berkomunikasi jarak jauh yang bisa menempuh jarak
ribuan kilometer.
Dari data tahun 1996, ada lebih dari 85.000 anggota ORARI,
sebagian besar dari mereka bekerja di VHF, band 2 meter, padahal
tingkat siaga diijinkan juga beroperasi di band HF 80 meter dengan
mode phone untuk komunikasi domestik, serta dijinkan beroperasi
di band HF lainnya dengan mode CW juga untuk komunikasi
domestik.
Dari hasil perkiraan pemantauan penulis melalui ORARI Nusantara
Net dan kontes-kontes di band HF 80 meter, dari tahun ke tahun
tidak lebih dari 200 sampai 300 stasiun dari seluruh Indonsia yang
bekerja di band ini, makin sedikit lagi di 40 meter, jauh makin
sedikit lagi di 15 dan 10 meter. Persentase terbesar dari amatir
radio kita bekerja di band VHF 2 meter dengan jarak komunikasi
beberapa ratus kilometer.
Bagi banyak operator radio amatir di seluruh dunia, HF band
merupakan "The Ultimate of Art", berkelahi dengan noise,
mendengarkan alunan sinyal yang "fading", propagasi yang tibatiba
terbuka dan tertutup, merupakan seni yang hanya bisa
dinikmati di HF band.
Jarak komunikasi yang jauh memungkinkan terjadinya pertukaran
budaya dan menambah pemahaman kita terhadap perbedaan,
dan inilah salah satu tujuan amatir radio, untuk membentuk "global
fraternity".
Bekerja di band HF membuka prespektif baru di diri kita mengenai
amatir radio, menyadari di dunia lain orang juga melakukan hal
yang sama dengan kita, membuka keterisolasian wilayah, dan
membuka keterisolasian budaya. Keterbatasan perangkat
bukanlah kendala, dengan jiwa dan semangat amatir radio
didukung perangkat yang sederhana, kita bisa melangsungkan
komunikasi di band HF dengan mudah. Di band 80 meter, banyak
perangkat buatan sendiri yang dirakit oleh putera puteri Indonesia
di berbagai wilayah Nusantara terdengar mengudara, halus
dengan sapaan khas orang Indonesia.
Inilah dunia kita "Amatir Radio" dan dengan semangatnya yang
pantang menyerah, kita menjembatani komunikasi antar daerah
dan antar budaya. Viva Amatir Radio Indonsia.
Note: Karena keterbatasan tingkat, penulis belum boleh
melakukan komunikasi DX. Untuk sementara DX dapat dilakukan
dengan internet. Layangkan email anda ke : yd1bih@qsl.net 73
Jawaban Trivia: Kali ini jawabannya adalah semua benar :). Anda
harus memiliki bukti komunikasi dengan 5 stasiun di masingmasing
call-area berbeda (0, 1,..., 9) sehingga total QSL Card
adalah 50 buah. Masing-masing call-area memiliki QSL Card dari
Amatir Radio tingkat Siaga, Penggalang dan Penegak.
Apakah Anda seseorang yang telah cukup syarat? Klaimlah ke:
M. Maruto, YB0TK, PO. Box 96 Jakarta 10002.
diambil dari “Callbook 1997 ORARI Daerah DKI Jakarta” Hal. 327